Quo Vadis: Masyarakat Organisasi Mahasiswa
Quo Vadis: Masyarakat Organisasi Mahasiswa

Organisasi dalam arti luas diartikan sebagai sekumpulan orang-orang yang terbentuk dalam suatu ikatan yang memiliki tujuan bersama. Organisasi mengandung beberapa unsur bilamana dikatakan sebagai sebuah organisasi, diantaranya memiliki basis massa dengan minimal dua orang yang berada dalam organisasi tersebut, kemudian memiliki landasan sebagai dasar ber–organisasi, serta memiliki tujuan bersama yang hendak dicapai.

Organ dalam sebuah organisasi ialah mereka-mereka yang memiliki hasrat yang sama serta memiliki orientasi tujuan yang sama sehingga dapat terbentuk sebuah organisasi. Dalam perkembangannya, organisasi dalam skala global maupun nasional sudah tumbuh merata demikian halnya dengan masyarakat organisasi.

Masyarakat organisasi disini, merupakan hasil dari organ-organ dalam sebuah organisasi yang mencakup keseluruhan unsur dari organisasi itu. Masyarakat organisasi sejatinya sudah menjadi akar dari tumbuhnya organ-organ didalam organisasi itu sendiri sehingga didapat bahwa masyarakat organisasi merupakan pencampuran dari organ-organ organisasi itu sendiri. Masyarakat dalam sebuah organisasi berperan penting terhadap kelancaran orientasi tujuan dari organisasi tersebut, sehingga peran yang diharapkan dari masyarakat organisasi itu sendiri tinggi.

Proses pengambilan keputusan, serta nota persetujuan dengan beberapa organisasi lain terkadang menjadi pelik tatkala masyarakat organisasi tidak bersatu suara dalam hal demikian. Problematika dalam organisasi selama ini, ialah mereka tidak mampu menyadari kesadarannya dalam sebuah organisasi. Antara niatan dan tindakan bertolak belakang dalam satu hentakan, yang justru menimbulkan perpecahan antar organ, yang berimbas dalam pengambilan kebijakan. Misalnya saja ada salah satu organisasi mahasiswa yang setingkat universitas dengan barang tentu mendapatkan gelontoran dana yang cukup besar, namun organisasi tersebut tidak mampu mengoptimalkan fungsi organisasinya sebagai sebuah proses berorganisasi hanya karena terjadi konflik internal didalamnya. Proses seperti ini menyadarkan bahwa posisi masyarakat organisasi begitu sentris dalam sebuah organisasi.

Memang dalam sebuah organisasi, pengelolaannya membutuhkan tenaga ekstra, sebab mengurus organisasi sama halnya mengurus rumah tangga.

Hadirnya program-program kerja di setiap organisasi setidaknya cukup menolong dan mendorong untuk menyadarkan bahwa posisi dirinya (mahasiswa) sedang dalam masyarakat organisasi. Sangat lucu, bila organisasi kemahasiswaan yang terbentuk dengan falsafah wadah pembelajaran organisasi menjadikannya sebagai ladang politik untuk memenangkan suatu kekuasaan yang sebenarnya itu hanya permainan ular tangga semata. Manifesto politik yang disampaikan saat awal kampanye menjadikan dorongan bersama untuk mengawal jalannya arah dari organisasi mahasiswa. 

Masyarakat organisasi memang tak jauh beda dengan masyarakat pada umumnya. Istilah masyarakat organisasi sebenarnya tidak begitu familiar di telinga kita, namun fakta–nya mereka yang berada dalam satu organisasi yang bahkan basis massa–nya hingga ribuan orang itu bisa saja disebut sebagai masyarakat. Tentu dalam sebuah organisasi satu dengan organisasi yang lainnya tidak sama dalam pelaksanaannya, dalam suatu masyarakat bisa dikatakan mereka sebagai sebuah masyarakat tentu ada norma dan nilai yang ditaati, begitu–pun dalam sebuah organisasi aktor-aktor dalam sebuah organisasi juga memiliki dan membentuk dengan sendirinya norma dan nilai yang dipatuhi oleh semua organ dari organisasi sebagai pembeda dengan organisasi lainnya.

Bisa kita lihat antara organisasi satu dengan organisasi yang lainnya dalam persoalan menjalankan program kerja, pun dalam kedua organisasi tersebut memiliki program kerja yang sama. Namun dalam pelaksanaannya memiliki orientasi proses yang berbeda, kendati pun itu wajar karena dalam setiap organisasi itu mempunyai norma dan nilai yang dianut masing-masing.

Pedoman dalam menyelenggarakan organisasi juga mengatur nilai dan norma demi kelancaran sebuah organisasi, selain sebagai dasar penyelenggaraan organisasi, istilah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga atau lebih dikenal dengan AD/ART merupakan salah satu pedoman atau landasan yang tertulis yang bertujuan sebagai pegangan dalam menyetir organisasi. Ibarat sebuah mobil yang ditumpangi oleh beberapa orang, jika tidak ada panduan atau landasan dalam berlalu lintas di jalanan seperti menyalakan lampu di siang hari, berhenti di saat lampu merah dan berjalan di saat lampu hijau maka menyebabkan kecelakaan lalu lintas, sama halnya dengan menjalankan roda organisasi, jika tidak ada landasan yang jelas serta pedoman yang jelas maka semua akan tidak beraturan.

Adanya peraturan dalam sebuah organisasi terkadang juga tidak sejalan apa yang dicitakan dan dituangkan dalam pedoman organisasi setiap organisasi. Hal ini terlihat dalam proses pengambilan keputusan saat dalam organisasi salah satu anggota mengalami konflik dengan anggota lainnya, dimana keduanya termasuk fungsionaris di organisasi itu, namun tidak pernah aktif dan berpartisipasi setiap ada kegiatan dalam organisasi tersebut, dari cerita ini seorang ketua organisasi akan diuji untuk mampu atau tidak menegakkan aturan yang sudah disepakati bersama di awal.

Peran aktor memang penting dalam sebuah organisasi dan barang tentu sangat dibutuhkan bilamana persoalan pelik dari masyarakat organisasi tidak bisa terselesaikan. Peran ketua, wakil ketua, serta dewan penasehat atau pembina pun turut menentukan arah kemana organisasi itu melangkah.

Ada beberapa kasus di organisasi mahasiswa di beberapa kampus yang mana, peran ketua atau pucuk pimpinan dari organisasi tersebut tidak optimal dalam melaksanakan perannya, saya ambil contoh di salah satu organisasi yang saya ikuti bahwa ketua saya tidak pernah benar-benar mengontrol satu per satu program kerja yang sudah direncanakan di awal hingga dalam periode kepengurusan–nya tidak ada program kerja yang benar-benar dirasakan saat ikut organisasi tersebut. Hingga pada suatu ketika diancam oleh pimpinan kampus bahwa organisasi ini akan dilebur menjadi satu dengan organisasi semacamnya karena tidak ada aktivitas organisasi.

Peristiwa tersebut tentu harusnya menyadarkan mahasiswa dan organisasi untuk berkaca diri terhadap situasi yang ada, sehingga ancaman dan pergolakan semacam itu tidak terjadi. Adanya check and balance  antara anggota dan anggota lainnya, antara ketua dan anggota perlu diaktifkan sebagai fungsi social control dalam organ mahasiswa.

Sebagai seorang mahasiswa, organisasi di kampus menjadi sebuah alternatif pilihan mahasiswa dan diberinya kebebasan untuk memilih–nya atau tidak memilih. Hal ini menjadi wajar jika tidak semua mahasiswa mengikuti atau memilih organisasi sebagai tempat pembelajaran dan pembentukan karakter, karena mereka memiliki pandangan sendiri akan organisasi di dalam kampus.

Adapun mahasiswa yang berpendapat lain bahwa organisasi kampus mampu membentuk karakter mahasiswa ataupun mampu membentuk mahasiswa yang memiliki ide visioner, bahwa mahasiswa tidak harus mengikuti atau memilih organisasi mahasiswa di dalam kampus untuk membentuk dirinya. Namun banyak hal dan banyak organisasi di luar kampus yang juga mampu membentuk dirinya, ini hanya saja terkait perbedaan pandangan terkait fungsi dari organ kampus.

Berbicara tentang mahasiswa yang baru masuk dalam dunia kampus, tentu mengalami culture shock dalam lingkungan yang baru. Tentu budaya di sekolah menengah atas (SMA) berbeda sekali dengan budaya di dalam kampus, misalnya saja di SMA jika terdapat jam kosong maka kita seharian di sekolah, berbeda di dalam kampus, jika ada jam kosong maka kita boleh saja sewaktu-waktu pulang dan datang ke kampus namun ditanggung mengganti jadwal di akhir minggu. Perbedaan budaya ini juga mempengaruhi terhadap pembentukan masyarakat organisasi di dalam kampus.

Kampus yang terdiri dari berbagai mahasiswa tentu membawa budaya- budaya dan perilaku yang bermacam-macam, sehingga tidak kaget jika nanti dalam masyarakat organisasi terdiri dari berbagai macam pikiran.

Mahasiswa baru seringkali dilematis dihadapkan dengan organisasi di dalam kampus, mereka di doktrin saat pengenalan kehidupan kampus bahwa dengan mengikuti organisasi di dalam kampus mampu meningkatkan keterampilan memimpin, meningkatkan keterampilan berbicara di depan publik, hingga mampu menjalin relasi yang baik dengan para birokrasi di selingkung universitas bahkan di selingkung pemerintahan. Doktrin seperti ini bagus, namun juga mempunyai shock effect yang menggugah mahasiswa baru dalam menerima informasi terkait organisasi mahasiswa di dalam kampus.

Gairah dengan adanya doktrin tersebut, meningkatkan antusiasme mahasiswa baru untuk mengikuti organisasi tanpa adanya pengetahuan lebih tentang apa saja yang akan diikuti, apa saja yang akan dialami saat ikut organisasi di dalam kampus. Alhasil, mahasiswa baru semakin antusias saat mendengar benefit–benefit seperti itu untuk turut mengikuti organisasi mahasiswa.

Ketika dibukanya pendaftaran pembukaan organisasi mahasiswa, mahasiswa membludak dan berbondong-bondong mendaftar, dan ketika sebagian dari mereka diterima dan berproses di dalam organisasi mahasiswa, lamban laun perilaku mereka berbeda dengan saat mereka di awal masuk yang sangat bergairah dan antusias mengikuti organisasi.

Berdasarkan riset kecil saya, mereka jauh berubah dalam hal perilaku ataupun gairah mengikuti organisasi, karena adanya perbedaan-perbedaan dan jarak yang terjadi di mereka. Dengan adanya perbedaan atau konflik laten di organ mahasiswa seperti ini, tentu organisasi mahasiswa harus mampu menunjukkan fungsi organisasi–nya bukan membiarkan konflik hingga menjamur yang berujung kepada masalah personal di luar organisasi. Oleh karena itu, masyarakat organisasi menjadi peran utama dalam organisasi mahasiswa, hadirnya organisasi diharapkan mampu membangkitkan marwah untuk menuangkan ide dan kreativitas setiap mahasiswa.

Tentang arah dan tujuan dari masyarakat organisasi mau seperti apa itu hanya bisa dijawab oleh pribadi masing-masing, sebab berhasil tidaknya dalam organisasi mahasiswa itu juga ditentukan oleh masyarakat organisasi di dalamnya, dan yang paling penting tidak menjadikan organisasi mahasiswa sebagai ajang politik semata namun sebagai wadah pengembangan diri.