Mencari Guru Bangsa

0
79

Istilah guru bangsa mungkin tidak terlalu familiar di telinga masyarakat, meskipun sebagian pasti sudah pernah mendengar atau pun membaca mengenai istilah ini. Meskipun begitu, pembahasan mengenai Guru Bangsa adalah pembahasan yang kosong. Tidak benar-benar memiliki makna apalagi pengaruh, kalah seksi dengan topik-topik pembahasan lainnya. Padahal bila kita korelasikan dengan kondisi negara saat ini bahwasannya negara kita masih belum menemukan figur yang pas dijadikan panutan ideal dalam berpolitik, seorang guru bangsa sangat diperlukan untuk mengisi kekosongan panutan ini.

Kekosongan sosok guru bangsa akhirnya menyebabkan masyarakat terjerumus ke dalam politik transaksional, politik pecah belah, politik yang bisa dikatakan dipenuhi dengan tanda hitam. Akibatnya, anak negeri ini  menirukan hal-hal negatif yang dilakukan oleh pendahulunya. Ini terus berlanjut sehingga memunculkan budaya yang bersifat negatif yang diturunkan generasi sebelumnya, yaitu perpolitikan yang tidak berdasarkan atas kepentingan seluruh masyarakat Indonesia.

Penulis merasa sosok guru bangsa adalah orang yang berjasa mencerdaskan dan menggerakkan masyarakat menuju kemajuan. Karena itu, posisi guru bangsa bisa dikatakan melebihi pahlawan mengingat sosoknya selalu dielu-elukan di tiap zaman. Contohnya saja seperti Cokroaminoto. Ia adalah seorang yang berjasa untuk menjadikan rakyat Indonesia sadar akan pentingnya berpolitik. Kepiawaiannya dalam berpolitik mampu membuatnya menjadi pemimpin Sarekat Islam (SI) yang anggotanya mencakup sebagian besar wilayah Indonesia. Sebuah prestasi yang begitu membanggakan disaat teknologi masih terbatas pada saat itu. Dari didikannya kemudian  lahirlah negarawan dan politikus hebat, seperti Kartosuwiryo, Sukarno, Musso, dan lain sebagainya.

Sosok seperti Cokroaminoto yang mampu mengemban tanggungjawab sebagai guru bangsa inilah yang diperlukan saat ini. Seorang yang mampu mengajarkan dan menjadi tauladan bagi anak negeri untuk mengabdikan diri pada bangsanya. Tokoh yang mampu menanamkan pikiran kepada generasi selanjutnya agar mau mencurahkan energinya untuk berkonstribusi dan bermanfaat bagi kemajuan bangsanya. Untuk itu sebenarnya bukan saja diperlukan politikus yang piawai bersilat lidah dan mengumbar janji, tetapi juga politikus yang mampu tindakan nyata menghadapi permasalahan di negeri ini untuk menjadi isprirasi dan motivasi bagi generasi selanjutnya.

Peran fundamental dari hadirnya guru bangsa seakan sirna dari bumi Indonesia setelah kepergian Cokroaminoto. Menurut penulis ini adalah sebuah fenomena yang patut diresahkan, karena apabila ini terus terjadi maka akan tertanam dibenak masyarakat bahwasanya politik itu jahat dan keji. Akhirnya yang merusak negeri ini bukan orang luar. tetapi masyarakat kita sendiri. Kerusakan ini disebabkan karena ketidakmampuan kita semua untuk menghadirkan sosok yang mampu memberikan panutan yang baik pada generasinya berikutnya.

Kekosongan sosok guru bangsa sebenarnya sudah mulai berusaha diisi oleh beberapa tokoh yang berbeda. Misalnya, Sukarno yang ajaran marhaenisnya masih digaungkan sampai sekarang. Kemudian, ada Gus Dur, seorang yang dianggap remeh namun banyak mengajarkan nilai-nilai toleransi. Ia bahkan dia membuka pikiran warga Indonesia bahwasannya manusia baik tidak dilihat dari agamanya tapi siapa yang membawa kebaikan tersebut. Terakhir ada seseorang yang penulis rasa pantas menyandang gelar guru bangsa, yakni Mbah Nun. Ia adalah seseorang yang tak ingin dilabeli apapun. Melalui sosoknya kini kita mengenal mengenai jam’iyah maiyah. Didalam paguyuban ini semuanya orang diperbolehkan bahkan didorong untuk belajar tentang pribadinya, tasawuf, pendidikan, ekonomi, dan lain sebagainya untuk mencari dan merumuskan kebenaran.

Dari beberapa tokoh berbeda yang telah penulis sebutkan sebelumnya, sebenarnya kita menarik indikator untuk melihat siapa yang pantas disebut sebagai guru bangsa, yaitu:

  1. Warga negara Indonesia
  2. Mempunyai semangat membangun kesadaran & mencerdaskan bangsa
  3. Memiliki nilai-nilai universal yang mampu diturunkan ke generasi berikutnya. Nilai-nilai universal yang dimaksudkan adalah nilai yang mampu diaplikasikan saat ini maupun dimasa mendatang.
  4. Gerakan sosialnya bisa dirasakan oleh tiap etnis, suku, agama, budaya yang ada di Indonesia
  5. Diakui/dikenal oleh berbagai kalangan masyarakat Indonesia

Penulis yakin, anda pasti bisa menentukan sosok yang pantas dijadikan guru bangsa dengan memperhatikan indikator tersebut. Sehingga, ditengah krisis politik Indonesia yang sedang carut-marut dan penuh gejolak ini, anda memiliki pegagangan. Kalau sudah begitu, maka penulis yakin bangsa ini akan menjadi bangsa yang disegani dan sosok “Guru Bangsa” dari tiap golongan berbeda.