Klarifikasi dan Permintaan Maaf

0
207

Yorrys Th Raweyai menulis buku Mengapa Papua Ingin Merdeka, diterbitkan pertama kali pada tahun 2002 oleh Presidium Dewan Papua. implikasi dari buku setebal 166 halaman ini sempat terbit di website persma.org dan ditulis secara ‘hard’ bertajuk “Jalan Damai dari Kerusuhan Orang-Orang Papua” yang sempat tayang beberapa saat.

Secara pribadi, saya menilai tulisan tersebut sah-sah saja tampil di media independen sekelas persma.org, alasannya, kanal ini merupakan tempat bagi manusia-manusia yang ingin menuliskan kegelisahannya. Tulisan Wahyu itu sendiri adalah semi feature yang diopinikan, walau agak njlimet saya akan membahasakan seperti itu. Bagi orang awam mungkin akan kaget membaca lead yang begitu memukul dan rasis. Terlebih, situasi danĀ  isu saudara kita di Papua sedang sangat mudah untuk di goreng.

Berdasarkan penilaian subjektif saya, ide tulisan tersebut sebenarnya sangat mulia, akan tetapi cara menuliskannya yang masih keliru dan disituasi yang tidak tepat. Wahyu dengan satir ingin menyindirkan kita untuk merenungkan kembali bagaimana sebenarnya Papua itu ditindas dan diperlakukan secara rasis. Logika dari oknum rasis itulah yang kemudian ia pakai untuk menganalisis persoalan yang tengah dihadapi teman-teman Papua.

“Saya menulis tentang Papua berdasarkan perspektif orang yang rasis. Jadi saya coba mengeksplore pemikiran rasisme tapi saya benturkan dengan kondisi sosial yang ada,” klarifikasi Wahyu, Kamis (22/8/2019

Mengapa Tulisan Itu Ditarik?
Ini menjadi perdebatan panjang di segenap keredaksian persma.org, sebagian menuduh kami kecolongan sebagian yang lain beranggapan masyarakat kita literasinya masih kurang sehingga belum siap menyerap isi tulisan ini. Ada yang lebih unik lagi, saya mencabut tulisan tersebut dianggap karena ada intervensi alumni dan seterusnya.

Lantaran itu, penulisnya sendiri beralasan “orang papua sendiri tidak tersinggung kok”. Argumentasi tersebut berlandaskan pada postingan  di halaman facebook milik Victor Yeimo. Terlebih, Pelle Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Papua Kota Malang yang menjadi teman baik penulis sendiri tidak tersinggung

Selanjutnya argumentasi liar lain bermunculan, terakhir ada yang mempertanyakan independensinya PPMI sebagai penanggungjawab keredaksian Persma.org, dicontohkanlah suarausu.co yang tetap mempertahankan tulisan Yael Stefani hingga berujung pada sidang PTUN dan seterusnya

Dari puluhan argumentasi tersebut saya ingin menjawab dengan satu argumentasi saya yang tidak argumentatif berikut ini.
“Tulisan itu dicabut karena belum semua siap menerima tulisan itu, mungkin karena imbas dari razia buku yang kian digalakkan sehingga literasi kita kurang,

Alasan kedua adalah menulis mengandung unsur SARA tidak layak untuk tayang di Persma.org, benar adanya jika ada yang menuduh saya kecolongan

Untuk itu, saya Rahmad Ali atas nama Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) dan segenap keredaksian meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia khususnya kepada saudara kita teman-teman Papua yang telah tersinggung karena tulisan kami

Jika tulisan ini belum mampu menjawab ketersinggungan seluruh pembaca di seluruh tanah air, terkhusus untuk teman-teman Papua, redaksi Persma.org siap menampung tulisan teman-teman.

Silahkan jawab tulisan ini dengan tulisan teman-teman sendiri, kirimkan ke redaksi@persma.org dan jangan ada unsur SARA lagi!

Rahmad Ali

Sekretaris Jenderal PPMI Nasional