Pak Mahfud MD, Salahkah Jika Saya Ingin Cepat Lulus?

10
314
http://nasional.sindonews.com/read/1088256/15/mahfud-md-mahasiswa-sekarang-hanya-kejar-ipk-dan-cepat-lulus-1456392176

Hampir saja saya memuntahkan kopi yang baru saya seruput setelah membaca berita berjudul Mahfud MD: Mahasiswa Sekarang Hanya Kejar IPK dan Cepat Lulus di sindonews.com, Kamis (25/02/2016). Saya mencoba mengatur nafas agar kopi yang saya seruput bisa tertelan dengan lancar, seraya terus membaca berita itu. Tapi rasanya ada yang aneh di tenggorokan. Kopi di warung langganan saya itu terasa tidak enak setelah saya membaca berita tentang pernyataan Bapak Mahfud MD dalam berita itu. Saya yang notabene adalah mahasiswa pengejar kelulusan sedikit tersinggung dengan pernyataan Pak Mahfud.

Jadi begini, saya yang seorang mahasiswa yang sempat sok-sokan pernah menjadi aktivis ini kurang sepakat dengan pernyataan Bapak Mahfud MD. Karena ketika memasuki perguruan tinggi, yang pertama harus dikejar adalah kelulusan dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang bagus. Nah, jika Bapak Mahfud merasa bahwa negara ini rugi kalau mahasiswa hanya mengejar IPK dan kelulusan, lantas apa yang harus dikejar oleh para mahasiswa? Diluar dedek-dedek mahasiswi yang tidak bisa ditolak lambaian kecantikannya.

Saya sadar Bapak Mahfud adalah alumni salah satu organisasi gerakan mahasiswa terbesar di Indonesia yaitu Himpunan Mahasiswa Islam. Bahkan menjadi Ketua Presidium Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Sebuah organisasi yang seperti bapak ungkapkan banyak melahirkan tokoh bangsa dulunya. Saya memang salut dengan HMI yang seperti bapak ungkapkan, bahkan dengan organisasi gerakan mahasiswa lain layaknya PMII, GMNI, KAMMI sampai organisasi mahasiswa yang mau menegakkan kekhilafahan di Indonesia. Saya begitu salut dengan keistiqomahan mereka menciptakan tokoh-tokoh bangsa yang memperjuangkan hak golongan, eh maksud saya hak masyarakat.

Maka, ketika saya membaca paragraf ini “Menurut Mahfud, kebanyakan tokoh-tokoh itu masuk ke perguruan tinggi tidak semata mengejar nilai tinggi.” Saya semakin penasaran, apa sebenarnya yang dikejar oleh tokoh-tokoh itu ketika kuliah dulu. Sehingga bisa menjadikan mereka sebagai kader bangsa yang berkualitas layaknya Bapak Mahfud. Rasa penasaran itu semakin membuat kopi saya terasa tidak enak, pak. Karena rasa penasaran saya juga memunculkan sebuah kekalutan. Apakah yang saya lakukan dengan hanya mengejar kelulusan ini tidak benar. Salahkah saya, berdosakah saya ini, pak?

Saya haqqul yakin bahwa bapak Mahfud adalah sosok alumni HMI yang berhasil. Buktinya bapak langsung menyatakan sikap terhadap isu yang sedang panas yaitu tentang LGBT. Selain itu bapak juga secara tidak langsung menunjukkan kepedulian terhadap kaum LGBT melalui akun twitter bapak. Bapak mengatakan bahwa “LGBT itu berbahaya dan menjijikkan, tp penanganannya tak perlu pengawalan Brimob,” Sungguh sebuah contoh kader yang berhasil.

Tapi kekalutan saya semakin besar. Apa sebenarnya yang harus dilakukan oleh mahasiswa agar negara tidak rugi seperti yang bapak ungkapkan. Boro-boro saya mengoordinir kawan-kawan agar bisa melakukan sebuah revolusi untuk negeri ini. Lha wong melakukan perubahan untuk mendekati satu cewek saja sudah kesulitan pak. Apalagi dengan munculnya aturan bahwa jatah waktu kuliah dikurangi dari tujuh tahun menjadi lima tahun. Hidup saya semakin semruweng rasanya.

Selain itu pak, jika harus menunda lulus saya jadi selalu ingat lirik dari salah satu lagu milik The Panas Dalam. Kira-kira begini petikan liriknya, pak: orang tua di desa menunggu // calon istri di rumah menanti // orang desa sudah banyak mengira // aku sukses di negeri orang. Sebwa kengerian. Apalagi jika harus berhadapan dengan sanak saudara yang selalu mengeluarkan pertanyaan andalan, hanya dua kata: kapan lulus? Di situ saya merasa hidup ini begitu kejam.

Lalu apa yang harus saya lakukan, Pak Mahfud?

Saya paham kok, Pak, kehawatiran bapak itu sungguh sangat beralasan. Gerakan mahasiswa sekarang memang tak punya taring. Tapi saya tidak menemukan hal reflektif dari statemen yang bapak keluarkan. Saya hanya menemukan hal-hal utopis yang sulit dijangkau di zaman sekarang. Apakah gerakan mahasiswa harus merenungkan hal-hal utopis yang bapak ungkapkan itu. Lantas apa bedanya dengan duduk di bangku kuliah dengan rajin dan lulus dengan predikat cumshot, ah maksud saya cumlaude.

Apakah kegelisahan bapak ini hanya muncul ketika menyambut hari ulang tahun KAHMI saja? Apakah hanya dengan menggelar beberapa acara dapat membuat gerakan mahasiswa berubah semudah membalikkan telapak tangan? Apakah dengan serangkaian kegiatan dalam ulang tahun KAHMI bisa mengalahkan acara Mario Teguh Golden Wise dengan segudang kalimat motivasinya itu?

Sebentar, bapak ingat tidak dengan pembubaran pemutaran Film Senyap yang diadakan oleh mahasiswa di Jogja, lalu pembubaran diskusi LGBT di Semarang dan pembredelan majalah mahasiswa di Salatiga? Bapak masih ingat kan? Ah, masa bapak sudah lupa kejadian yang belum satu tahun lewat. Tapi bapak bisa ingat bagaimana dulu organisasi mahasiswa menelurkan tokoh-tokoh hebat. Sedih rasanya, bapak bisa bilang kalau semua mahasiswa sudah menjadi mesin tapi ketika ada kegiatan mahasiswa yang dibubarkan bapak kok diam saja.

Mahasiswa sekarang memang lebih banyak yang memilih untuk cepat lulus, sedangkan di sisi lain gerakan mahasiswa tak terdengar gaungnya. Sungguh menjadi dilema bagi seorang mahasiswa yang kerjaannya hanya kuliah, tidur dan ngopi seperti saya ini. Mungkin setelah ini kopi yang saya minum tiap hari akan terasa tidak enak, karena berita yang saya baca tentang statement bapak. Bapak Mahfud tak perlu bertanggung jawab kok tentang hal itu. Siapalah saya ini, hanya mahasiswa yang sampai semester 10 belum menempuh Kuliah Kerja Nyata

Tapi pak, tolong jawab pertanyaan saya ini.

Apa yang harus dilakukan oleh gerakan mahasiswa sekarang? Merampok nasi di salah satu rumah makan sebelum berangkat ke acara kongres? Meloby dana kepada para alumni yang menjadi anggota DPR, agar acara yang akan diadakan sukses? Atau merusak fasilitas negara agar bisa mengikuti acara yang diadakan oleh salah satu organisasi mahasiswa?